Indie Art Wedding, Sederhana Tapi Manis

Kalau bicara Indie Art Wedding, pasti ga jauh-jauh dari Efek Rumah Kaca. Fyi, Indie Art Wedding ini adalah duo. Personilnya cuma 2, tetapi sekarang jadi 3. Saya ga akan mengkritik tentang musik mereka, karena saya ga ngerti apa-apa tentang musik, saya hanya seorang fans dan penikmat musik mereka.

Kedua manusia unik itu adalah Cholil Mahmud dan Irma Hidayana. Masing-masing dari mereka punya latar  pekerjaan yang berbeda. Cholil Mahmud dikenal sebagai vokalis Efek Rumah Kaca, dan pioneer Pandai Besi (jadi vokalis juga). Sedangkan Irma Hidayana dikenal sebagai director di salah satu pekerjaan sosial yang bergerak di bidang pendidikan. Mereka berdua adalah sepasang suami istri. Mereka menikah pada tahun 2008 dan sekarang sudah memiliki anak bernama Angan Senja (unik yah), yang menjadi personil ke-3 dari Indie Art Wedding. Continue reading

Advertisements

Rindu Ingin Bertemu

Kalau saja kau melekat dekat, mungkin aku tak segundah ini. 

Harum badanmu yang selalu membuat rindu, indah wajahmu selalu buatku terpangku mengagumimu.

Kapan lagi aku punya waktu untuk habiskan kisah lara dan candaku bersamamu.

Mungkin kau sudah tahu semua rahasiaku, rahasia hatiku, dan rahasia hidupku.

Hanya saja waktu sedang tak berpihak padaku.

Aku rindu ruangmu, pelukmu, dinginmu, hangatmu, dan senyum indahmu.

Izinkan aku untuk menyicil langkah menujumu, Merapi. 🙂

Bapeeeeeeer. Lagi baper maksimal karena rindu berat sama Merapi. Iya, Gunung Merapi yang jaraknya sekitar 20 km dari kampus saya. Gila kali ya saya rindunya sama benda mati. Tapi, ya begitulah. Begitulah saya dan teman-teman saya.

Kita punya kebiasaan, paling tidak sebulan sekali ke Merapi (sewaktu masa-masa skripsi). Karena sudah penat dengan urusan skripsi yang ga kelar-kelar, Merapi jadi pelarian kita. Berangkatnya terserah. Mau setelah Ashar atau setelah Maghrib, atau sehabis Subuh karena cuma pengen pulang balik dan ga nginep.

Continue reading

Musim Hujan

Musim hujan musimnya gantung sepatu buat yang suka naik gunung. Waduh, saya sudah beberapa bulan nih gantung sepatu dan Kitti (carrier saya), sudah hampir setahun kali ya ga naik gunung. Yaudah lupakan soal naik gunung, karena musim hujan juga masih banyak bisa ngelakuin hal ini -itu. Plintiran di selimut misalnya. Enak~

Kalau hujan, pada suka dengerin musik apa? Saya mau ngasih rekomendasi musik yang enak banget kalau didengerin pas hujan lagi turun.  Continue reading

Macam – Macam Karakter Customer

Selamat malam 🙂

Baru pulang kerja (22.23 WIB) enaknya ngadem di kamar, mainan internet sambil minum infused water. Segeeeeeeeeeer. Ini saya mau curhat sebagai pedagang tentang beberapa karakter customer.

  1. Customer Afgan

Tau lagu Afgan yang judulnya Sadis kan? Nah, itu tuh yang saya maksud. Sadis nawarnya! :))) Pernah nih ya saya jualan semacam bros gitu, saya kasi harga 100.000, ditawar 25.000. Langsung pasang muka lempeng 😐 Yah Ibuuuuuu, jangan segitu juga kali Bu. Itu modal saja ga dapet Bu 😦
Continue reading

Random Thoughts

Selamat siang!

Minggu ini terima nasib saja kalau ga bisa nonton Efek Rumah Kaca di Jogja 😥 Secara sekarang menetap di Medan, dan sudah ga bisa sering-sering ke sana lagi. Waktu di Jogja aja jarang banget ada gigs keren, atau sayanya saja yang ga peduli. Kenapa jadi curhat #palmface

Jadi, hari Minggu yang lalu saya punya percakapan dengan teman saya, namanya Kak Manda. Profesinya sama seperti saya, wirausahawati. Kak Manda sudah 6 tahun menjalani bisnisnya. Dan ga disangka-sangka juga kalau Kak Manda bener-bener mulainya dari nol banget. Mulai dari modal cuma sekian dan dapet lapak jualan gratisan dari kampusnya. Sampai akhirnya sekarang sudah punya toko di pusat perbelanjaan terkenal di Medan. Salut.
Continue reading

Panggilan Zaman Sekarang

Baiklah, karena saya bosan jaga stand bazaar mendingan ngeluarin uneg-uneg kepala.
Saya pengen nulis artikel ini karena kadang saya bingung harus menggunakan panggilan apa ke orang-orang yang baru saya kenal. Misalnya saja di yoga studio. Karena yogamates saya 70% adalah ibu-ibu, jd kadang saya suka kikuk harus manggil apa. Pertama, mau manggil Ibu tapi mereka menyebut diri mereka Kakak. Kedua, mau manggil Tante, saya tidak terbiasa manggil teman Ibu saya dengan sebutan Tante. Jadinya saya ikutan manggil Kakak. Terkesan kurang sopan yah.

Lalu, saya banyak menjumpai pelanggan saya yang sudah Ibu-Ibu tapi masih terlihat seperti Kakak-Kakak. Awet muda gitu. Jadi, di saat tawar menawar saya panggil dengan sebutan Kakak atau Mbak. Eh tau-tau putrinya (yang sudah SMA atau sebaya saya) nongol :)) Saya jadi kikuk kan harus mengubah panggilan jadi Ibu, Tante, atau tetap Kakak :))

Zaman sekarang, Ibu-Ibu kenapa tidak mau dipanggil Ibu yah? Saya sendiri merasa panggilan “Ibu” kepada orang yang umurnya selisih jauh dari kita terkesan lebih sopan daripada Tante.
Tetapi saya merasa kok lain halnya dengan panggilan Bapak atau Om. Laki-laki yang lebih tua (atau sebaya Bapak kita) kalau dipanggil Bapak terasa tua banget. Kenapa gitu yah?

Ada yang bingung seperti saya? Baiklah. Apapun panggilannya kita tetap harus berlaku sopan kepada orang yang lebih tua dari kita. That’s the point